Lacak Arsip

Anti Virus sMaDav

Sabtu, 13 Agustus 2011

Apple Palsu Marak Beredar Di Cina

Sulit sekali memberantas pemalsuan di China. Kemarin, Pemerintah China menemukan lagi 22 toko yang menjual barang-barang elektronik keluaran Apple palsu di Kunming. Padahal, beberapa pekan sebelumnya, otoritas China menutup dua toko semacam itu.

China merupakan tempat barang palsu terbesar di dunia. Tampaknya upaya pemerintah untuk menumpas pemalsuan barang hingga ke akarnya tidak mudah dilakukan.

Pada mulanya, keberadaan toko Apple palsu itu ditemukan oleh seorang bloger Amerika di Kunming. Toko palsu itu sangat meyakinkan. Bahkan, pegawainya berpikir mereka bekerja untuk perusahaan raksasa top dari Amerika Serikat itu.

Penemuan toko palsu dalam jumlah yang tidak sedikit ini membuat keguncangan di seluruh dunia. Otoritas China bergerak dengan cepat. Mereka langsung menutup toko-toko palsu itu. Ternyata, walaupun sudah ditutup, muncul toko palsu di tempat lain.

Dalam situsnya, Apple menyatakan, di seantero China hanya ada empat toko resmi Apple, yaitu dua toko di Beijing dan dua toko di Shanghai. Selain itu, banyak juga toko yang mendapat otorisasi menjual barang-barang Apple.

Pemerintah China, bulan lalu, mengumumkan, mereka telah menutup dua toko Apple palsu di Kunming setelah menyelidiki sekitar 300 toko teknologi informasi di kota ini. Radio nasional China melaporkan, otoritas telah membuat sambungan telepon langsung untuk masyarakat agar mereka dapat menelusuri peredaran barang-barang palsu dan toko-toko yang menjual barang palsu. (AFP/Reuters/Joe)

Sumber :Kompas Cetak

Minggu, 07 Agustus 2011

Demokrat Terjangkit Dana Flu Burung

Jakarta - Partai Demokrat membantah memanfaatkan dana proyek vaksin flu burung untuk kepentingan politik pemilihan umum 2009, terkait pengajuan anggaran vaksin flu burung senilai Rp718 miliar di Kementerian Kesehatan, yang dinilai terlalu dipaksakan di saat menjelang pemilihan umum 2009.

"Tidak benar itu. Sama sekali tidak relevan mencurigai seperti itu," kata Hinca Panjaitan, juru bicara Partai Demokrat melalui pesan singkatnya, kepada Gresnews.com, Minggu (7/8).

Hinca menjawab tudingan Ketua Komisi IX DPR RI Ribka Tjibtaning yang mengatakan, saat itu Komisi IX tidak tahu siapa yang bakal melaksanakan proyek vaksin flu burung. Namun, jika melihat fakta yang terungkap sekarang, Ribka menduga pengajuan anggaran saat itu terdapat kaitan dengan kepentingan pemilu 2009.

Soalnya, PT Anugrah Nusantara milik tersangka kasus korupsi Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, memenangkan proyek vaksin flu burung itu senilai Rp718 miliar dengan tambahan hibah dari WHO US$3,5 juta.

Menurut Hinca, kemenangan Partai Demokrat tahun 2009 dipastikan bersih. Hal itu, katanya, dapat dibuktikan berdasarkan laporan keuangan partainya yang sudah dinyatakan tidak masalah.
images courtesy : goal.com


"Laporan keuangan juga sudah selesai waktu itu dan tidak ada masalah dan sudah sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku," pungkas Hinca.
Reporter : Khresna Guntarto (khresna@gresnews.com)
Redaktur : M. Achsan Atjo (atjo@gresnews.com)
sumber : http://www.gresnews.com/berita/hukum/185878-pemilu-2009-partai-demokrat-bantah-gunakan-dana-vaksin-flu-burung

Jumat, 05 Agustus 2011

Dow Jones Stocks Going Down

A stronger jobs report wasn't enough to calm financial markets or stem concerns that the debt crisis in Europe could threaten the fragile U.S. economy.

The Dow Jones industrial average was down nearly 130 points in midday trading Friday.

Investors are increasingly concerned about the economy in the U.S. and abroad. Among the issues: The building financial crisis in Europe; hiring in the U.S. that is too slow to significantly lower the unemployment rate; anemic growth in manufacturing, the service sector and a decline in consumer spending; and the belief that the government has might not do more to stimulate the economy.

European leaders have interrupted their summer vacations for emergency meetings. They are trying to craft a plan that would prevent Italy or Spain from becoming the latest countries in the region to require large-scale financial help.

The two countries have Europe's third and fourth largest economies. But European leaders and central bankers might not have the cash needed to prop them up until a larger financial rescue fund can be established by a broader group of financial leaders.

The U.S. economy added 117,000 jobs in July, and hiring in May and June were not as bad as reported previously, the Labor Department reported. The unemployment rate inched down to 9.1 percent from 9.2 percent, partly because some unemployed workers stopped looking for work. Health care providers and manufacturers added jobs.

The Dow had jumped as many as 171 points when the market opened for trading because of the jobs news. By midmorning it was down more than 100 points.

Fears about the broader economy are outweighing the improved jobs report and strong corporate earnings, said Dan Greenhaus, chief global strategist at the trading firm BTIG.

"From an economic standpoint, 117,000 jobs is hardly sufficient to boost the economy," he said. He said it is impossible to tell how long the nervousness will affect the market, but he said it will more likely be years than months.

About twice as many jobs as that must be created every month in order to rapidly reduce the unemployment rate. It has been above 9 percent nearly every month since the recession officially ended in June 2009. Many economists fear that the economy might dip back into recession.

Shortly after noon, the Dow Jones industrial average fell 126, or 1.1 percent, to 11,258. The Standard & Poor's 500 index dropped 19, or 1.6 percent, to 1,181. The Nasdaq composite index plunged 63 points, or 2.5 percent, to 2,493.

The Dow Jones industrial average plunged 513 points on Thursday. It was the worst day for the Dow since 2008. It is now down 1,500 points, or 11.8 percent, the losing streak began on July 21. The S&P 500 is down 12.5 percent since July 22. All three indexes are in correction. That happens when an index loses more than 10 percent off its recent highs.

Overseas markets also fell. Tokyo, Hong Kong and China all closed down 4 percent. Taiwan lost 6 percent. In Europe, shares recovered some of their losses after plunging to their lowest levels in more than a year. Germany's DAX index fell 2.8 percent. Other indexes showed smaller losses.

The Vix, a measure of investor fear, is up 135.5 percent since July 1.

Economic fears pushed benchmark West Texas Intermediate crude for September delivery down by 64 cents on Friday to $85.98 per barrel on the New York Mercantile Exchange. On Thursday, crude tumbled $5.30 to $86.63.

The yield on the 2-year Treasury note fell to 0.29 percent, after brushing a record low of 0.26 percent earlier Friday. Frightened investors are buying bonds, sending their prices higher and yields lower. The yield on the benchmark 10-year Treasury note rose to 2.48 percent after hitting a low since last year of 2.34 percent.

Traders have focused on a torrent of bad economic news since the U.S. government struck a deal last weekend to raise the nation's borrowing limit, averting a debt default. Manufacturing and the service sector are barely growing. The economy expanded in the first half of the year at its slowest pace since the recession ended in June 2009.

Economists at Wells Fargo Securities estimate there is a one in three chance of another U.S. recession.

Only three of the three S&P 500's ten industry groups are up for the year: Health care, utilities and consumer staples. Traders consider those companies to be relatively recession-resistant.

Procter & Gamble's stock opened higher but was flat in late morning trading. The consumer products company's fourth-quarter revenue and income jumped on strong sales in emerging markets.

Viacom Inc. fell slightly after the firm said its income and revenue increased more than analysts expected in

the second quarter because of strong advertising sales and fees from cable companies.

Priceline.com Inc. surged 8 percent, the most in the S&P, after the company reported that it earned far more than expected in the second quarter as travel bookings on the website increased.

____

AP Energy Writer Jonathan Fahey in New York contributed to this report.

Kamis, 04 Agustus 2011

Bos Microsft Beramal Lagi

Pendiri Microsoft yang telah menjadi salah satu orang terkaya di dunia, Bill Gates, menjual lima juta lembar sahamnya di Microsoft pada 27 Juli 2011 lalu. Gates menjual saham dengan harga masing-masing 27,59 dollar AS per lembar saham.

Bill Gates memang telah mundur dari kegiatan operasional di Microsoft sejak tahun 2008 untuk berkonsentrasi pada kegiatan amal lewat Yayasan Bill and Melinda Gates yang didirikan bersama istrinya. Dalam 12 bulan terakhir, ia telah menjual 90 juta lembar sahamnya di perusahaan perangkat lunak tersebut untuk tujuan amal. Meski demikian, Gates masih memiliki sekitar 500 juta lembar sahamnya di Microsoft.

Hasil penjualan saham selama ini digunakan Gates untuk kegiatan amalnya. Minggu ini, Gates dan Melinda akan mengalokasikan 42 juta dollar AS untuk membangun toilet flush di delapan perguruan tinggi dan di beberapa tempat di dunia untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Gates juga mendukung penelitian dalam meningkatkan pendidikan. "Setiap siswa membutuhkan pendidikan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan," ungkap Gates dalam pidatonya di Amerika Serikat, minggu lalu. Ia menyebut pendidikan sebagai jawaban untuk memperoleh pekerjaan di AS dan untuk mengurangi kemiskinan.

Majalah Forbes memperkirakan kekayaan Gates mencapai 56 miliar dollar AS atau sekitar Rp 500 triliun. Gates kini memang bukan orang pertama terkaya di dunia, masih di bawah kekayaan Carlos Slim, pengusaha telekomunikasi.

Gates dan teman lamanya, Warren Buffett, telah berjanji untuk memberikan sebagian besar kekayaan mereka untuk amal sebelum kematian mereka. Mereka juga telah meyakinkan sejumlah miliarder lainnya, termasuk pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, untuk mengikuti langkah amal ini.
-

Sumber :
kompas/Guardian

Rabu, 03 Agustus 2011

Sri Mulyani Dibeking Pihak Asing

SAYA kira tanggapan itu adalah partisan yang penuh muatan politis. Kalau saya melihat neolib tidak seperti itu. Saya melihat tuduhan itu tidak mendasar,” kata Ketua Umum Partai SRI Daminaus Taufan, kepada di Jakarta, Rabu (3/8/2011). Partai SRI, katanya, merupakan buah dari SMIK (Solidaritas Masyarakat Indonesia untuk Keadilan) yang dalam salah satu asasnya mencakup asas keadilan. “Kami ini dalam salah satu asasnya mencakup asas keadilan, dan itu yang tidak ada di kalangan Neolib,” katanya.

Taufan sendiri mengakui partainya memang hanya mengandalkan SMI seorang, meski di dalamnya juga terdapat nama-nama terkenal macam Arby Sanit, Rocky Gerung, Todung Mulya Lubis, maupun Rahman Tolleng. “Memang ada jaringan di dalam Partai SRI ini, seperti nama Rocky Gerung ataupun Arby Sanit yang notabene mantan aktivis, tapi kami jualannya hanya Sri Mulyani. Karena mereka-mereka itu yang mengagumi Sri Mulyani, sehingga jaringan itu terbentuk dengan sendirinya,” ujarnya.

Partai SRI ini didirikan pada 2 Mei 2011 di Jakarta, oleh sejumlah orang yang bersimpati kepada Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan periode 2004-2009, yang kini menjabat sebagai Managing Director World Bank. Kedekatan Sri Mulyani Indrawati dengan pihak asing, terutama Amerika Serikat, berimbas pada label neolib kepada partai yang baru muncul ini.

Gonjang-ganjing Bank Century yang tak kunjung selesai tak ayal memengaruhi tokoh Sri Mulyani Inderawati yang menjadi sentral dari Partai Serikat Rakyat Independen (SRI). Namun, hal tersebut dinilai tidak akan mengganggu.

“Beliau (Sri Mulyani) enggak salah, kami yakin tidak masalah. Jadi tidak khawatir. Ukurannya secara hukum bukan yang lain,” kata Daminaus Taufan, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Partai SRI di Jakarta, Rabu (3/8). Bahkan, menurut Taufan, anggapan publik yang menyatakan mantan Menteri Keuangan itu terlibat tidak bisa menjadi pegangan. “Anggapan itu pendapat partisan tidak bisa dijadikan pegangan,” ujarnya.
Penokohan tunggal Sri Mulyani Indrawati (SMI) oleh Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) langsung dicap sebagai paham Neo-Liberalisme. Hal tersebut tidak terlepas dari stigma SMI yang sering dituding memiliki kedekatan dengan pihak asing, terutama Amerika Serikat.



Taufan dan partainya berkeyakinan rakyat Indonesia sudah cukup cerdas sehingga preseden dan anggapan buruk yang menimpa tokoh anutan partai berlambang sapu lidi tersebut diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Mantan Wasekjen Partai Indonesia Baru (PIB) itu tidak memungkiri jika Sri Mulyani yang menjadi tombak partainya lebih populer di kalangan menengah. “Saya yakin Ibu Sri Mulyani dikenal di daerah juga. Kalau dikenal kelas menengah, itu malah luar biasa karena kalangan itu bisa membawa perubahan,” ujarnya.

Mengenai pendanaan dan keterlibatan langsung Sri Mulyani dalam pembentukan partai SRI ini, Taufan mengatakan hal tersebut tidak terjadi. “Ibu Sri Mulyani tidak terlibat. Ini sepenuhnya ide dari bawah,” kata Taufan. Lalu, bagaimana mendapatkan dana untuk partai? “SMIK (cikal bakal partai SRI) sebenarnya hidup di Facebook. Kebanyakan rata-rata profesional, kalangan anak muda. Dari situlah dana kita selain iuran anggota,” tegasnya.
sumber :