Lacak Arsip

Anti Virus sMaDav

Minggu, 03 Juli 2011

Muktamar PPP Menyimpan Kecemasan

Di tengah kegembiraan kader PPP yang kini tengah menggelar Muktamar VII, sebenarnya mereka tengah menyimpan kecemasan yang luar biasa. Kecemasan itu menyangkut masa depan partai berlambang Ka’bah, terutama ketika berhadapan dengan Parliamentary Threshold (PT) yang didorong hingga ke angka 4 persen sampai 5 persen.

PENGAMAT Politik dan Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI, Ardi Winangun mengatakan kecemasan-kecemasan yang dialami kader dan partisan PPP itu terwujud dalam beberapa bentuk, pertama, muktamar ini merupakan muktamar luar biasa, sebab seharusnya Muktamar VII PPP baru digelar nanti, pada Februari 2012. Namun karena 2012 terlalu dekat dengan Pemilu 2014, maka mau tidak mau, terjadi kesepakatan bahwa muktamar harus dipercepat. Tujuannya, agar persiapan untuk menghadapi Pemilu lebih panjang dan lebih siap.

Kecemasan berikutnya adalah bila PT disepakati 4 persen sampai 5 persen. Sebab, aturan itu bisa jadi akan mengubur PPP di luar Senayan. Kekhawatiran ini sangat wajar, karena perolehan suara pada Pemilu 2004 yang mencapai 8,2 persen, ternyata turun di Pemilu 2009 menjadi hanya 5,3 persen. Bisa jadi, pada Pemilu 2014 akan kembali turun.

Menurunnya suara yang melanda PPP salah satunya karena semakin banyaknya partai berhaluan Islam yang muncul. Sehingga, partai-partai berhaluan nasionalis lebih diminati masyarakat pemilih, karena mereka lebih mampu membumikan ideologi atau visi dan misinya. Sedang partai-partai Islam, terutama PPP, belum mampu melakukan hal itu.

Kondisi seperti itu diakui sendiri oleh Ketua Umum PPP Suryadharma Ali saat membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II dan Harlah XXXVII PPP (Partai Persatuan Pembangunan), di Medan, Sumatera Utara, Januari 2010 silam.

Suryadharma Ali mengakui, isu keislaman yang selalu dijadikan modal PPP ternyata tidak mampu mendongkrak dukungan. Karena persoalan krusial yang menjadi perhatian utama masyarakat adalah keterjangkauan harga kebutuhan pokok, bukan isu ritual keagamaan yang sampai saat ini masih dikemukakan oleh partai Islam.


Untuk mensiasati agar bisa lolos PT 4 persen sampai 5 persen, PPP kembali menggandeng para kiai sebagai vote getter agar bisa mendulang suara. PPP mengklaim, 41 kiai dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Kebangkitan Nadlatul Ulama (PKNU) yang tersebar di seluruh kabupaten/ kota di Jawa Timur telah bergabung ke PPP. Kejadian ini akan menjadi amunisi baru membangkitkan kejayaan PPP, setelah terpecah di era reformasi.

Kekuatan dari kiai itu bertambah ketika di sela-sela Muskerwil DPD PPP Jawa Timur, Juni 2011, sejumlah kiai seperti KH Anwar Iskandar (Kediri), KH Nawawi Abdul Jalil (Pasuruan), KH Mas Subadar (Pasuruan), KH Mahrus (Madura), KH Ja’far Yunus (Madura),dan Gus Yasin (Madura), menyatakan bergabung dengan PPP. Deklarasi bergabungnya para ulama dan kiai ini dilakukan di sela-sela Muskerwil DPD PPP Jawa Timur di Surabaya, belum lama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar